Zico dan Bagus saat ini menjadi andalan di lini depan timnas U-16.
Dalam beberapa tahun terakhir, stok striker tim nasional (timnas) Indonesia disebut-sebut sangat minim. Padahal, ada banyak striker lokal yang bertebaran di berbagai klub Liga 1. Hanya saja, kesempatan bermain untuk para penyerang lokal itu masih minim.
Mungkin bisa dihitung dengan jari striker lokal yang diberikan kesempatan untuk menjadi ujung tombak utama klub Liga 1. Karena memang, klub-klub tersebut kebanyakan lebih mempercayakan posisi striker kepada pemain asing.
Hal ini yang membuat timnas Indonesia kesulitan mendapatkan penyerang berkualitas di level senior maupun U-23. Sehingga sampai harus menggunakan jasa pemain naturalisasi untuk menambah daya gedor tim di skuat Indonesia U-23 yang sedang dipersiapkan untuk Asian Games 2018.
Berbicara level timnas kelompok usia di bawahnya, sebenarnya ada harapan yang muncul untuk melahirkan pemain berkualitas di posisi ini. Di level U-19 muncul nama Muhammad Rafli Mursalim dan Hanis Saghara Putra.
Kini, di level timnas Indonesia U-16, dua striker muda mencuri perhatian. Mereka adalah Sutan Diego Armando Zico dan Amiruddin Bagus Kahfi Alfikri. Bagus mencuat lebih dulu namanya bersama timnas U-16 saat Piala AFF U-15 2017. ketika itu, Bagus mencetak tiga gol yang semua golnya dicetak ke gawang Australia.
Sedangkan Zico langsung melambung lantaran menjadi topskor kualifikasi Piala Asia U-16 2018 dengan torehan sepuluh gol dalam empat laga fase grup G. Indonesia pun lolos ke putaran final di Malaysia, September nanti, dengan status sebagai juara grup.
Kini, kedua pemain itu bahu membahu menjadi mesin gol untuk skuat asuhan Fakhri Husaini di Piala AFF U-16 2018. Sayangnya, Zico harus memulai turnamen ini dengan kondisi yang tidak 100 persen lantaran ada cedera di bagian pangkal pahanya.
Sementara ini, pemain yang pernah berlatih di SSB Bina Taruna itu memang baru mencetak satu gol, berbeda dengan Bagus yang mampu melesat dengan torehan enam golnya sekaligus memimpin daftar topskor sementara turnamen.
Meski begitu, Fakhri menegaskan kedua pemainnya itu adalah striker yang bisa menjadi harapan di masa depan. "Kedua pemain ini sama-sama punya kualitas yang bagus dan potensial. Tapi mereka memiliki tipe permainan yang berbeda. Untuk Bagus, dia bagus dalam pergerakan di luar kotak penalti dan punya kecepatan. Sedangkan Zico adalah striker yang cerdas di dalam kotak penalti," ucap Fakhri.
Dengan adanya dua striker ini, setidaknya Indonesia masih punya harapan tak akan kekurangan stok striker berkualitas di masa depan. Namun para pemain muda ini harus mendapatkan ruang untuk lebih meningkatkan kemampuan mereka, dan satu-satunya ruang itu adalah melalui sebuah kompetisi yang dikelola dengan baik dan berkesinambungan.
Apalagi, para pemain di timnas U-16 diproyeksikan untuk menjadi skuat yang bisa membawa Indonesia lolos ke Olimpiade 2024. Ujungnya, para pemain ini adalah harapan agar membawa skuat Garuda bersaing di Piala Dunia 2034 jika nanti Indonesia berhasi
Sumber
Dalam beberapa tahun terakhir, stok striker tim nasional (timnas) Indonesia disebut-sebut sangat minim. Padahal, ada banyak striker lokal yang bertebaran di berbagai klub Liga 1. Hanya saja, kesempatan bermain untuk para penyerang lokal itu masih minim.
Mungkin bisa dihitung dengan jari striker lokal yang diberikan kesempatan untuk menjadi ujung tombak utama klub Liga 1. Karena memang, klub-klub tersebut kebanyakan lebih mempercayakan posisi striker kepada pemain asing.
Hal ini yang membuat timnas Indonesia kesulitan mendapatkan penyerang berkualitas di level senior maupun U-23. Sehingga sampai harus menggunakan jasa pemain naturalisasi untuk menambah daya gedor tim di skuat Indonesia U-23 yang sedang dipersiapkan untuk Asian Games 2018.
Berbicara level timnas kelompok usia di bawahnya, sebenarnya ada harapan yang muncul untuk melahirkan pemain berkualitas di posisi ini. Di level U-19 muncul nama Muhammad Rafli Mursalim dan Hanis Saghara Putra.
Kini, di level timnas Indonesia U-16, dua striker muda mencuri perhatian. Mereka adalah Sutan Diego Armando Zico dan Amiruddin Bagus Kahfi Alfikri. Bagus mencuat lebih dulu namanya bersama timnas U-16 saat Piala AFF U-15 2017. ketika itu, Bagus mencetak tiga gol yang semua golnya dicetak ke gawang Australia.
Sedangkan Zico langsung melambung lantaran menjadi topskor kualifikasi Piala Asia U-16 2018 dengan torehan sepuluh gol dalam empat laga fase grup G. Indonesia pun lolos ke putaran final di Malaysia, September nanti, dengan status sebagai juara grup.
Kini, kedua pemain itu bahu membahu menjadi mesin gol untuk skuat asuhan Fakhri Husaini di Piala AFF U-16 2018. Sayangnya, Zico harus memulai turnamen ini dengan kondisi yang tidak 100 persen lantaran ada cedera di bagian pangkal pahanya.
Sementara ini, pemain yang pernah berlatih di SSB Bina Taruna itu memang baru mencetak satu gol, berbeda dengan Bagus yang mampu melesat dengan torehan enam golnya sekaligus memimpin daftar topskor sementara turnamen.
Meski begitu, Fakhri menegaskan kedua pemainnya itu adalah striker yang bisa menjadi harapan di masa depan. "Kedua pemain ini sama-sama punya kualitas yang bagus dan potensial. Tapi mereka memiliki tipe permainan yang berbeda. Untuk Bagus, dia bagus dalam pergerakan di luar kotak penalti dan punya kecepatan. Sedangkan Zico adalah striker yang cerdas di dalam kotak penalti," ucap Fakhri.
Dengan adanya dua striker ini, setidaknya Indonesia masih punya harapan tak akan kekurangan stok striker berkualitas di masa depan. Namun para pemain muda ini harus mendapatkan ruang untuk lebih meningkatkan kemampuan mereka, dan satu-satunya ruang itu adalah melalui sebuah kompetisi yang dikelola dengan baik dan berkesinambungan.
Apalagi, para pemain di timnas U-16 diproyeksikan untuk menjadi skuat yang bisa membawa Indonesia lolos ke Olimpiade 2024. Ujungnya, para pemain ini adalah harapan agar membawa skuat Garuda bersaing di Piala Dunia 2034 jika nanti Indonesia berhasi
Sumber
Categories :
Soccer




No comments:
Post a Comment